Program siaran edukasi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Subang kembali menyapa masyarakat Subang di Studio Radio Benpas Subang pada Sabtu, (14/3).
Dipandu oleh Anisa Mega Utami, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, mengangkat tema terkait Literasi Sosiolinguistik Bahasa Indonesia, dengan menghadirkan narasumber Endang Sugianto, M.Pd.
Dalam paparannya, Endang mengajak pendengar untuk memahami hakikat sosiolinguistik dan peranannya yang tak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat.
"Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi serta merupakan bagian dari masyarakat dan kebudayaan tertentu," ungkap Endang.
Ia juga menambahkan rumusan dari J.A. Fishman, bahwa sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi-fungsi bahasa, dan pemakai bahasa, dimana ketiga unsur tersebut selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam masyarakat.
Lebih lanjut, perbincangan tersebut mengerucut pada bagaimana manusia mempraktikkan bahasa dalam realitas sehari-hari. Endang menuturkan bahwa bahasa dan pemakaiannya di masyarakat tidak diamati secara individual, melainkan dipandang secara sosial.
Ia pun memaparkan bahwa faktor nonlinguistik ini mencakup faktor sosial yang berupa tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial, dan tingkat ekonomi.
Sementara itu, faktor situasional sangat bergantung pada siapa yang berbicara, dimana, kapan, dan masalah apa yang sedang diperbincangkan.
Endang juga menjelaskan perbedaan antara alih kode dan campur kode yang sering disalahpahami. Ia menerangkan bahwa alih kode adalah gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi.
Di sisi lain, menilik pandangan Kachru, Endang mendefinisikan campur kode sebagai pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain secara konsisten.
"Campur kode digunakan berupa serpihan-serpihan dari bahasa lain dalam menggunakan suatu bahasa yang mungkin memang diperlukan sehingga tidak dianggap sebagai suatu kesalahan atau penyimpangan," jelas Endang.
Ia pun menekankan pentingnya sikap bahasa di tengah arus pergeseran budaya. Dimana saat ini, sikap bahasa dikaitkan dengan kesiapan mental dan saraf yang terbentuk melalui pengalaman yang memberikan arah atau pengaruh yang dinamiis.
Terakhir, Endang berpesan mengenai pentingnya memiliki kesadaran berbahasa yang tepat. Ia menegaskan bahwa sikap positif akan mendorong penutur untuk sejauh mungkin mengurangi atau menghilangkan sama sekali warna daerah atau dialeknya pada situasi tertentu.



