Komentar

Program siaran Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Subang kembali menyapa pendengar setia di Studio Radio Benpas Subang pada Sabtu, (14/3).

Dipandu oleh Anisa Mega Utami, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, menghadirkan Dr. Slamet Wahyudi Yulianto, M.Pd., sebagai narasumber, dengan membawakan tema Bahasa Inggris dan Missinformasi di Masa Krisis.

Dalam paparannya, Dr. Slamet mengajak para pendengar untuk mengingat kembali krisis yang belum lama dihadapi dunia, yakni pandemi Covid-19.

Ia menyatakan ingin me-recall pengalaman saat semua pihak sama-sama berduka melawan Covid-19, dimana pada saat itu banyak sekali misinformasi, disinformasi, hingga malinformasi yang beredar luas. Ketiga jenis informasi keliru tersebut dinilai sangat merugikan karena menjerumuskan masyarakat pada pemahaman yang salah.

Dr. Slamet menjelaskan bahwa ketika mendapatkan informasi yang salah, maka kita akan bersikap, mengambil tindakan, dan berperilaku yang juga salah.

Menurutnya, rentetan tindakan keliru yang didasari oleh informasi salah itu sebenarnya bisa diminimalisir apabila masyarakat memiliki kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni serta didukung dengan kemampuan berpikir kritis.

Ia memaparkan bahwa sumber-sumber informasi yang kredibel dan dapat dipercaya, yang didasarkan pada penelitian valid, kebanyakan disebarkan menggunakan bahasa Inggris. Namun, keterbatasan kemampuan berbahasa Inggris yang dipadukan dengan kemalasan dalam mencari informasi valid, sering membuat masyarakat menjadi kebingungan saat berhadapan dengan krisis seperti Covid-19.

Melihat kondisi saat ini, Dr. Slamet mengingatkan bahwa ancaman krisis global belum sepenuhnya usai.

Ia menyebutkan bahwa hari ini dunia tengah berhadapan dengan tiga jenis krisis yang mulai tampak nyata. Krisis pertama adalah krisis ekologi, disusul oleh krisis geopolitik, dimana beberapa wilayah saat ini sedang memanas dan berperang, serta ancaman krisis ekonomi yang tidak bisa dipisahkan dari krisis-krisis sebelumnya.

Dr. Slamet menekankan bahwa ketiga risiko krisis tersebut harus disikapi dengan melindungi diri dari misinformasi, baik yang disebarkan dengan sengaja maupun tidak sengaja.

"Berupaya terus meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan berpikir kritis agar tidak termakan informasi-informasi yang salah, yang akan membuat risiko krisis yang dihadapi itu makin merugikan kita," jelas Dr. Slamet.

Sebagai penutup, Dr. Slamet menuturkan bahwa kesadaran akan pentingnya literasi bahasa dan pemikiran yang kritis menjadi kunci utama agar masyarakat dapat bertahan dan mengambil keputusan yang tepat di tengah arus informasi global yang tak terbendung.

KATEGORI

Komentar (Komentar)

MEDIA SOSIAL+