Menyambut tahun ajaran baru, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Subang bersama Ikatan Penyuluh KB mengampanyekan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS).
Kampanye edukatif bertema Satu Perjalanan Sejuta Makna, dibahas tuntas dalam sebuah program Bingkisan Keluarga yang digelar di Studio Radio Benpas Subang pada Kamis (9/7), dengan dipandu oleh Ghina Khoerunnisa, S.I.Kom.
Hadir secara langsung, Ida Farida, S.Kep. selaku plt Kepala Bidang Pembangunan Ketahanan Keluarga (PKK) DP2KBP3A Subang, Zainal Arifin, S.AN. selaku Penyuluh KB Pamanukan, apt. Ratih Diani Astuty Sari, S.Farm, M.M. selaku Penyuluh KB Kalijati, serta Hangga Dwi Lesmana. Penyuluh KB Pagaden Barat.
Plt Kepala Bidang Pembangunan Ketahanan Keluarga (PKK) DP2KBP3A Subang, Ida Farida, S.Kep., menjelaskan bahwa GAMAS merupakan turunan dari program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) inisiasi Kemenko PMK. Di tingkat daerah, gerakan ini diperkuat melalui Surat Edaran Bupati Subang Nomor 400.2.1/20/DP2KBP3A Tahun 2026 yang mengimbau para ayah untuk turun langsung mengantar anaknya masuk sekolah pada 13 Juli mendatang.
Langkah strategis ini diambil guna menekan tingginya krisis peran ayah, yang berdasarkan data tahun 2025 mencapai 25,8 persen. Minimnya figur ayah diyakini menjadi pemicu lahirnya strawberry generation, sebuah sebutan untuk generasi yang tampak kuat dari luar namun memiliki mental yang rapuh dan mudah menyerah.
Dalam diskusi tersebut, jajaran Penyuluh KB Kabupaten Subang sepakat bahwa kehadiran ayah memberikan fondasi psikologis yang krusial. Jika cinta ibu identik dengan kasih sayang, maka kehadiran ayah akan membentuk kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab anak.
Untuk menyukseskan program ini, para penyuluh KB gencar melakukan sosialisasi melalui kolaborasi dengan pihak PAUD hingga pendekatan ke komunitas bapak-bapak seperti 'Kompak Tenan' dan 'Papa Asik'.
Menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai anak yang mungkin justru menangis jika tiba-tiba diantar oleh sang ayah, Penyuluh KB menyarankan pendekatan pengasuhan kolaboratif, di mana ayah dan ibu berangkat bersama untuk mendampingi anak. Sementara itu, bagi keluarga yang kehilangan sosok ayah akibat perceraian atau meninggal dunia, peran pendampingan ini dapat digantikan oleh figur laki-laki dalam keluarga besar, seperti kakek atau paman.
Menutup diskusi tersebut, keempat narasumber sepakat bahwa ketahanan keluarga yang kokoh melalui kehadiran figur pengasuh dinilai sangat penting sebagai benteng utama anak dari berbagai kerentanan, termasuk dari ancaman kejahatan seksual.




