Komentar

Di balik suara khas yang melengking dan sarat nuansa pedesaan, tersimpan perjalanan panjang Toleat, alat musik tradisional yang lahir dari kreativitas masyarakat agraris Subang.

Warisan budaya ini menjadi topik utama dalam Talkshow Pesona Seni Pasundan (PENSI) bertajuk 'Toleat, Napas Budaya Sunda nu Ulah Leungit' yang digelar di Studio Radio Benpas Subang, Jumat (29/5).

Budayawan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang, Asep Nurbudi, mengungkapkan bahwa Toleat berawal dari permainan sederhana masyarakat di lingkungan persawahan.

Pada masa itu, anak-anak dan para petani memanfaatkan jerami padi serta daun kelapa untuk menghasilkan bunyi-bunyian yang kemudian berkembang menjadi alat musik tradisional.

Seiring waktu, Toleat mengalami perkembangan yang signifikan. Sosok Mang Parman dari Sukamandi dikenal sebagai pelopor yang berperan besar dalam mengembangkan dan memperkenalkan Toleat hingga dikenal luas oleh masyarakat.

Berkat dedikasi para pelaku budaya, alat musik khas Subang ini tidak hanya bertahan, tetapi juga terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Upaya pelestarian tersebut mencapai tonggak penting ketika Toleat resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2021.

Menurut Asep, pengakuan tersebut merupakan hasil proses panjang yang dimulai sejak 2019 melalui berbagai kajian dan pengusulan. Status WBTb menjadi bentuk perlindungan sekaligus penguatan identitas budaya Kabupaten Subang di tingkat nasional.

Tidak hanya hidup di tengah masyarakat, Toleat kini juga mulai mendapat tempat di lingkungan akademik.

Dosen ISBI Bandung, Teguh Gumilar, S.Pd.,M.Sn. menjelaskan bahwa pengakuan sebagai WBTb membuka ruang yang lebih luas bagi pengembangan Toleat melalui pendidikan, penelitian, dan penciptaan karya seni. Saat ini, Toleat telah dipelajari oleh mahasiswa dan menjadi objek berbagai riset serta eksplorasi artistik.

Sementara itu, praktisi Toleat, Deara Jembar Pangestu, M.Sn. melihat potensi besar alat musik ini untuk terus berkembang di era modern.

Kehadiran media sosial pun dinilai menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan Toleat kepada generasi muda dan menjangkau khalayak yang lebih luas.

Melalui diskusi tersebut, para narasumber sepakat bahwa pelestarian Toleat tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dukungan pemerintah, akademisi, pelaku seni, komunitas budaya, hingga generasi muda menjadi kunci agar warisan budaya ini tetap hidup.

Dari alat permainan sederhana di hamparan sawah hingga diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, perjalanan Toleat menunjukkan bahwa budaya akan terus bernapas ketika masyarakatnya menjaga, mempelajari, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.

Sebagai identitas khas Subang dan bagian dari kekayaan budaya Sunda, Toleat diharapkan terus bergema dan relevan di tengah arus perubahan zaman.

KATEGORI

Komentar (Komentar)

MEDIA SOSIAL+