Mengudara langsung dari Studio Radio Benpas Subang pada Sabtu (11/4), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Subang kembali menyapa pendengar setia di seluruh penjuru Subang.
Dipandu oleh Nurul Aurolia dan Aulia Sohibah Akbar, dengan menghadirkan narasumber Endang Sugianto, M.Pd., mengangkat tema yang sangat dekat dengan keseharian kita, yakni Literasi Sosiolinguistik.
Dalam paparannya, Endang membedah tuntas bagaimana bahasa berinteraksi dengan kehidupan sosial bermasyarakat. Menurutnya, sosiolinguistik pada dasarnya memandang bahasa sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat dan kebudayaan tertentu.
Hal ini berarti penggunaan bahasa tidak bisa lepas dari pengaruh berbagai faktor sosial seperti tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial, hingga tingkat ekonomi masyarakat penuturnya.
Endang menjaslaskan bahwa terdapat faktor situasional berupa siapa yang berbicara, di mana tempatnya, kapan waktunya, dan apa masalah yang sedang dibicarakan juga sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan.
"Bahasa itu sangat dinamis dan bergantung pada ruang lingkup sosialnya. Ketika kita berbicara, kita tidak hanya sekadar mengeluarkan lambang bunyi yang bermakna, tetapi kita juga sedang menunjukkan identitas sosial kita." ujar Endang.
Lebih lanjut, Endang beralih pada topik mengenai sikap bahasa serta fenomena pergeseran dan pemertahanan bahasa di era yang semakin terbuka. Menurutnya, fenomena dimana sikap bahasa yang positif sering kali mendorong seorang penutur untuk sejauh mungkin mengurangi atau bahkan menghilangkan sama sekali warna daerah atau dialeknya demi menyesuaikan diri.
Namun di sisi lain, isu pemertahanan bahasa juga sangat krusial, karena hal ini sangat menyangkut masalah sikap atau penilaian penutur untuk tetap menggunakan bahasanya sendiri di tengah-tengah gempuran penggunaan bahasa lain.
"Kesetiaan dan kebanggaan terhadap bahasa adalah kunci bertahannya sebuah budaya. Kita tentu boleh menguasai bahasa nasional atau bahasa asing dengan sangat fasih demi tuntutan zaman, namun kita harus bijak mempertahanan bahasa ibu kita sebagai jati diri bangsa.
Sebagai penutup, Endang berharap dengan adanya pemahaman mengenai sosiolinguistik dapat mengajarkan kita untuk menempatkan bahasa secara proporsional, menghargai keberagaman dialek orang lain, dan berkomunikasi dengan jauh lebih beretika di tengah masyarakat yang majemuk.



