Peringatan Hari Jadi ke-78 Kabupaten Subang dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat pemahaman sejarah dan kebudayaan daerah. Hal ini disampaikan dalam talkshow “78 Tahun Subang: Kembali Mengenal Subang dalam Lintasan Waktu” yang disiarkan Radio Benpas Subang, Kamis (2/4).
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Subang, Ade Intra, menegaskan bahwa sejarah berperan penting sebagai dasar penyusunan kebijakan kebudayaan. Menurutnya, sejarah tidak hanya mencatat masa lalu, tetapi juga menjadi data perilaku masyarakat untuk merancang strategi pemajuan dan ketahanan budaya.
Upaya pelestarian budaya di Subang terus dilakukan melalui inventarisasi dan perlindungan, didasari oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Hingga kini, sekitar 80 situs budaya telah ditetapkan, serta empat Warisan Budaya Takbenda, termasuk Sisingaan dan Bajidoran, telah diakui. Selain itu, pembinaan seniman dan pementasan seni rutin digelar untuk menjaga keberlanjutan budaya.
Pamong Budaya Yayan Suryanata menjelaskan, perjalanan Subang sejak 1948 tidak terlepas dari dinamika masa revolusi hingga fase pembangunan. Ia juga menyoroti kekhasan budaya Subang yang terbentuk dari tiga wilayah geografis: pegunungan, tengah, dan pesisir.
Sementara itu, Tim Sejarah Disdikbud Subang Andi Arismunandar menekankan pentingnya memahami sejarah sesuai konteks zamannya. Ia menyebut, keragaman budaya Subang dipengaruhi oleh wilayah Priangan, Pantura, dan Karawang, yang memperkaya identitas daerah.
Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-78 Subang turut diisi berbagai kegiatan budaya seperti Barung Bajidor, wayang golek, istighosah, dan festival musik. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya menjaga dan memahami sejarah serta budaya daerah.
Penjelasan dari narasumber tersebut dapat disimak secara lengkap melalui Channel Youtube Benpas Subang.




