Kesulitan anak dalam mempelajari matematika kerap disalahartikan sebagai tanda kurangnya kecerdasan atau sekadar rasa malas belajar.
Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi indikasi adanya diskalkulia, yakni gangguan belajar spesifik yang berkaitan dengan kemampuan memahami angka dan konsep matematika.
Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai fenomena ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Subang menghadirkan program siaran edukatif di Studio Radio Benpas Subang pada Sabtu (7/3).
Acara yang dipandu oleh Feynarica, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, menghadirkan narasumber Yanry Budaningsih, M.Pd., yang mengulas secara komprehensif mengenai diskalkulia sebagai salah satu gangguan belajar pada bidang matematika.
Dalam pemaparannya, Yanry Budaningsih menjelaskan bahwa diskalkulia merupakan gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan memahami angka, simbol, serta konsep dasar matematika.
Kondisi ini telah banyak dikaji oleh para ahli, di antaranya David C. Geary yang mengklasifikasikan diskalkulia sebagai gangguan perkembangan dalam mempelajari keterampilan matematika, serta Brian Butterworth yang menyebutnya sebagai ketidakmampuan memahami bilangan.
Yanry menegaskan bahwa diskalkulia tidak berkaitan dengan tingkat kecerdasan anak. Menurutnya, peserta didik yang mengalami kondisi ini umumnya menunjukkan beberapa ciri khas, seperti keterlambatan dalam berhitung, kesulitan mengingat fakta matematika dasar, serta sering tertukar saat menuliskan angka.
“Kesulitan tersebut tidak hanya muncul dalam pelajaran matematika di sekolah, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, seperti memahami konsep waktu, ukuran, hingga menghitung uang,” jelas Yanry.
Ia juga memaparkan sejumlah faktor yang dapat memicu munculnya diskalkulia, di antaranya faktor neurologis yang berkaitan dengan fungsi otak, faktor genetika, keterlambatan perkembangan kognitif, hingga lingkungan belajar yang kurang mendukung.
Menurut Yanry, apabila tidak ditangani secara tepat, diskalkulia tidak hanya berdampak pada rendahnya capaian akademik dalam matematika, tetapi juga dapat memengaruhi rasa percaya diri peserta didik serta kemampuan mereka dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan yang berkaitan dengan perhitungan angka.
Sebagai penutup, Yanry memberikan sejumlah rekomendasi penanganan yang dapat dilakukan oleh guru maupun orang tua.
Beberapa di antaranya adalah menggunakan media pembelajaran yang bersifat konkret, menyajikan materi secara bertahap dan visual, memberikan latihan yang terstruktur, serta menyediakan pendampingan belajar secara lebih intensif dan individual.




