Komentar

Di tengah pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI), kekhawatiran akan hilangnya berbagai lapangan pekerjaan semakin mengemuka. Namun, sebuah diskusi inspiratif dari program FKIP Universitas Subang yang disiarkan langsung di studio Radio Benpas Subang pada Sabtu (13/6), berhasil menepis keraguan tersebut, khususnya bagi para calon tenaga pendidik.

Bincang santai ini ini dipandu oleh Aulia Sohibah Akbar, Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, hadir secara langsung sebagai narasumber, Drs. Jufrianto Sibarani, M.Pd., yang mengupas mengenai profesi lulusan Bahasa Inggris yang dipastikan tidak akan tergantikan oleh AI.

Dalam paparannya, Jufrianto menekankan bahwa penguasaan teknologi memang menjadi sebuah keharusan agar relevan dengan perkembangan zaman. Akan tetapi, teknologi harus diposisikan secara proporsional. Peran AI sejatinya hanyalah sebagai instrumen pelengkap untuk mempermudah pekerjaan teknis, bukan sebagai subjek yang mengambil alih jiwa dari profesi pendidik itu sendiri.

Menurutnya, ada sisi empathic intelligence dan sentuhan personal dari seorang guru yang selamanya tidak akan bisa direplikasi oleh mesin secanggih apa pun. Hal ini pula yang menjadi keunggulan mutlak lulusan keguruan.

"Bagaimanapun majunya teknologi, saat menjadi guru itu memang teknologi sebagai alat bantu, tapu bukan untuk menggantikan profesi gurunya. Bagaimana calon guru itu memberi inspirasi, mengubah pola pikir peserta didik, termasuk bahkan sebagai teladan dalam hidup, itu semuanya tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun," tegas Jufrianto.

Sebagai penutup, Jufrianto mengingatkan kepada para mahasiswa untuk tidak perlu lagi berfokus pada ketakutan akan digantikan oleh kecerdasan buatan. Tapi kolaborasi antara Artificial Intelligence dan Empathic Intelligence adalah kunci utama untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga kaya akan kedekatan emosional dan nilai-nilai kemanusiaan yang tak terbatas oleh waktu.

KATEGORI

Komentar (Komentar)

MEDIA SOSIAL+