Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Subang kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian budaya dan pendidikan sastra melalui program siaran edukatif di Studio Radio Benpas Subang pada Sabtu, (7/2).
Dipandu oleh Ida Maulida, M.Pd., hadir secara langsung Endang Sugianto, M.Pd., sebagai narasumber yang membedah secara mendalam mengenai seluk-beluk pantun sebagai salah satu bentuk puisi lama Indonesia yang berasal dari tradisi sastra Melayu.
Dalam paparannya, Endang menjelaskan bahwa pantun bukan sekadar susunan kata yang berima, melainkan sebuah seni merangkai gagasan yang padat makna.
Ia menekankan bahwa meskipun awalnya pantun disampaikan secara lisan dan dibuat sesingkat mungkin, tetapi setiap barisnya tetap harus padat isi dengan jumlah suku kata antara delapan hingga dua belas suku kata.
"Pantun memiliki ciri khas yang kreatif, dimana kita bisa menggunakan perbandingan, metafora, atau kiasan untuk menyampaikan pesan atau cerita dengan gaya yang indah dan berima," ujar Endang.
Lebih lanjut, Endang menjelaskan struktur unik pantun yang terdiri atas empat baris, dimana dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris terakhir disebut isi, dengan pola rima a-b-a-b.
Menurutnya, sampiran berfungsi sebagai pengantar puitis yang jenaka untuk menyiapkan rima dan irama, meskipun seringkali tidak berhubungan langsung dengan bagian isi. Karena bagian isi inilah yang memuat pesan utama yang ingin disampaikan oleh pembuat pantun kepada pendengarnya.
Endang juga menyoroti berbagai fungsi pantun dalam kehidupan sosial. Ia mengungkapkan bahwa selain populer sebagai sarana hiburan dalam acara pertunjukan seni atau pertemuan keluarga, pantun sejatinya memiliki peran strategis sebagai alat pendidikan informal.
Sebagai penutup, Endang menegaskan bahwa pantun mampu memuat petuah, ajaran moral, hingga sindiran sosial yang dikemas dengan bahasa kreatif sehingga pesan positif dapat diterima dengan baik tanpa terkesan menggurui.




