Komentar

Radio Benpas Subang kembali menghadirkan program kolaborasi edukatif bersama Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Subang, yang disiarkan pada Sabtu (6/9). Program ini mengangkat dua topik yang inspiratif dan relevan: “Matematika dalam Budaya Lokal Subang” dan “Perempuan dalam Dunia Olahraga.”

Hadir sebagai narasumber, tiga dosen dari FKIP Universitas Subang Nurhayati, S.Pd., M.Pd., Tini Martini, M.Pd., dan Arif Fajar Prasetiyo, M.Pd. serta beberapa mahasiswa FKIP, menyampaikan gagasan dan pengalaman yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Sesi pertama dibuka oleh Tini Martini, M.Pd., yang membagikan pengalamannya semasa SMA sebagai atlet. Tak hanya satu cabang, Tini menguasai berbagai bidang olahraga seperti lari, voli, anggar, hingga sepak bola.

“Atletik adalah ibunya olahraga. Dengan dasar atletik, saya bisa menguasai berbagai jenis olahraga dengan lebih mudah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki potensi besar dalam bidang olahraga, dan tidak boleh dianggap lemah.

“Kita, perempuan, tidak boleh merasa lemah, baik terhadap laki-laki maupun terhadap tantangan hidup. Kita harus berani berjuang, berprestasi, dan bersikap profesional meskipun menghadapi banyak rintangan,” tegasnya.

Sementara itu, Arif Fajar Prasetiyo, M.Pd., mengingatkan pentingnya memberi ruang yang adil bagi perempuan di dunia olahraga.

“Perempuan sangat berkontribusi dalam olahraga baik olahraga prestasi, pendidikan, maupun rekreasi. Di Indonesia, ketiganya penting, dan perempuan perlu diberikan tempat yang layak di dalamnya,” katanya.

Ia juga menambahkan pentingnya konsistensi dalam menjalani pola hidup sehat. Dalam kesempatannya Arif Fajar Prasetiyo menyampaikan bahwa kita harus konsisten berolahraga, dibarengi dengan pola makan dan pola hidup yang sehat agar mencapai kebugaran jasmani yang sesungguhnya.

Menariknya, sesi berikutnya menghadirkan perspektif unik dari Nurhayati, S.Pd., M.Pd., yang menjelaskan bahwa matematika tidak hanya hidup di ruang kelas, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan budaya lokal Subang.

“Ambil contoh anyaman bambu yang biasa kita temui. Di balik bentuk segitiga, persegi, dan persegi panjang, terdapat konsep matematika yang nyata mulai dari pola, bentuk, hingga cara menyilangkan bambu,” jelasnya.

Ia pun memberikan masukan kepada para guru matematika agar menyampaikan materi dengan pendekatan yang lebih kontekstual.

“Jangan langsung masuk ke materi. Mulailah dengan memperkenalkan sejarah dan manfaat dari materi tersebut, agar siswa merasa lebih dekat dan paham,” sarannya.



dok: restu

KATEGORI

Komentar (Komentar)

MEDIA SOSIAL+