Komentar

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Subang, KH. Abdu Manaf, S.Ag., menegaskan bahwa ibadah puasa tidak sekadar menahan lapar dan haus, melainkan menahan diri secara menyeluruh. 

Hal itu disampaikan dalam Talkshow Lebih Dekat (Lekat) bertema “Bukan Sekadar Menahan Lapar: Cara Memaksimalkan Pahala di Bulan Ramadan” di Radio Benpas Subang, Kamis (19/2).

Menjelang Ramadan 1447 Hijriah, KH. Abdu Manaf menjelaskan bahwa secara syariat, puasa bermakna al-imsak atau menahan diri.

Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali, ia menyebut terdapat tiga tingkatan puasa, yakni puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus.

Menurutnya, puasa tidak hanya menahan hal-hal yang membatalkan secara fisik, tetapi juga menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang tidak baik.

“Menjaga mata, telinga, lisan, tangan hingga kaki dari hal yang dilarang merupakan bagian dari puasa yang lebih tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan, tujuan utama puasa adalah meraih ketakwaan sebagaimana termaktub dalam Al-Baqarah ayat 183. Takwa, kata dia, merupakan kekuatan mental untuk konsisten menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Selain itu, KH. Abdu Manaf memaparkan sejumlah hikmah puasa, di antaranya menumbuhkan kesadaran akan pengawasan Allah, mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan empati sosial, menanamkan nilai kesetaraan, melatih kedisiplinan, serta memberikan manfaat bagi kesehatan fisik.

Melalui momentum Ramadan, ia mengajak umat Muslim menjadikan puasa sebagai sarana pembentukan karakter dan peningkatan kualitas diri, bukan sekadar rutinitas tahunan.

KATEGORI

Komentar (Komentar)

MEDIA SOSIAL+