Ancaman kekeringan tidak hanya disebabkan oleh berkurangnya curah hujan, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan. Perubahan iklim, kenaikan suhu, kondisi tanah, ketersediaan air tanah, perubahan penggunaan lahan, hingga pengelolaan sumber daya air menjadi bagian dari persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam Talkshow Lebih Dekat (LEKAT) yang disiarkan langsung melalui LPPL Radio Benpas Subang, Senin (14/9), dengan mengangkat tema “Subang Kekeringan: Bisakah Sains Jadi Solusi?”
Talkshow yang dipandu penyiar Farida Al-Qodariah, M.I.Kom., menghadirkan Peneliti Ahli Utama BRIN, Prof. Dr. Ir. Ridwan Rachmat, M.Agr., sebagai narasumber.
Dalam perbincangan tersebut, Prof. Ridwan menjelaskan bahwa kekeringan merupakan persoalan kompleks yang tidak semata-mata terjadi karena hujan tidak turun dalam jangka waktu tertentu.
Menurutnya, perubahan iklim dapat meningkatkan risiko kekeringan melalui perubahan suhu, pola curah hujan, serta terganggunya keseimbangan siklus hidrologi. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh kelembapan tanah, ketersediaan air, serta berbagai perubahan yang terjadi pada lingkungan.
“Kenaikan suhu di bumi dan berbagai bencana yang terjadi dapat memberikan pengaruh besar terhadap kondisi suatu wilayah. Semua itu berkaitan dalam satu kesatuan siklus hidrologi yang keseimbangannya dapat terganggu dan berpotensi menyebabkan kekeringan,” jelas Prof. Ridwan.
Ia menambahkan, sains dan teknologi memiliki peran penting dalam upaya menghadapi ancaman kekeringan. Perkembangan teknologi memungkinkan kondisi kekeringan dipantau dan diprediksi dengan lebih akurat melalui pemanfaatan satelit, sensor, radar, serta teknologi digital.
Teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung penyediaan informasi yang lebih cepat dan akurat sebagai dasar dalam pengambilan langkah mitigasi maupun penanganan kekeringan.
Kekeringan juga menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Untuk mengurangi dampaknya, petani dapat menerapkan berbagai langkah adaptasi, seperti memilih tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering, mengatur waktu tanam, menjaga kualitas dan kelembapan tanah, serta memanfaatkan irigasi dan penampungan air secara bijak.
Selain itu, pemanfaatan teknologi dan informasi cuaca juga dapat membantu petani memantau kondisi lahan serta kebutuhan air tanaman.
Terkait kondisi di Kabupaten Subang, Prof. Ridwan menyampaikan bahwa BRIN membuka peluang kolaborasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Subang dalam menghadapi persoalan kekeringan melalui penerapan sains dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Ketika terjadi kekeringan yang sangat parah, BRIN dapat berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Subang untuk memanfaatkan teknologi yang diperlukan dan dapat diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Di akhir talkshow, Prof. Ridwan menekankan bahwa upaya menghadapi kekeringan membutuhkan kepedulian dan kerja sama dari berbagai pihak. Langkah antisipasi dan pencegahan perlu dilakukan sejak dini sebelum dampak kekeringan semakin meluas.
Melalui pengelolaan sumber daya air yang bijak, pemanfaatan sains dan teknologi, serta dukungan terhadap sektor pertanian, dampak kekeringan diharapkan dapat diminimalkan sekaligus menjaga ketahanan pangan.




