Komentar

Kabupaten Subang hingga kini masih berstatus siaga bencana, khususnya banjir, seiring dampaknya yang meluas di sejumlah wilayah.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Subang, Udin Jazudin, S.Pd., M.M., menegaskan bahwa penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Hal tersebut disampaikannya dalam Talkshow Lebih Dekat (Lekat) yang disiarkan Radio Benpas Subang, Senin (2/2).

Dalam kesempatan tersebut, Udin Jazudin menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah melalui BPBD Subang mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran, kewaspadaan, serta peran aktif dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

“Upaya penanggulangan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat. Kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan warga Kabupaten Subang menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko dan dampak bencana,” ujarnya.

BPBD Subang menjalankan tiga tahapan utama dalam penanggulangan bencana, yakni pencegahan, kedaruratan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pada tahap pencegahan, BPBD melakukan identifikasi wilayah rawan bencana, perbaikan kondisi lingkungan sebelum bencana terjadi, penanganan pohon dan area berisiko, serta edukasi berkelanjutan kepada masyarakat agar lebih tanggap terhadap potensi bencana.

Tahap kedaruratan dilakukan saat bencana terjadi, seperti banjir dan longsor. BPBD bergerak cepat dengan melakukan evakuasi warga, pendirian posko pengungsian, penyediaan dapur umum, layanan kesehatan, serta koordinasi lintas instansi bersama TNI, Polri, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan para relawan.

Sementara itu, tahap rehabilitasi dan rekonstruksi difokuskan pada pembersihan lingkungan pascabencana, pemberian bantuan alat dan tenaga untuk perbaikan rumah warga, serta pemulihan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.

Terkait banjir, Udin Jazudin menjelaskan bahwa di Kabupaten Subang awalnya banjir melanda tiga kecamatan dan kini telah meluas menjadi delapan kecamatan.

Beberapa faktor penyebab banjir antara lain curah hujan tinggi, kiriman air dari wilayah selatan, pendangkalan sungai akibat sedimentasi, serta luapan sungai besar seperti Sungai Cipunagara.

Di sejumlah lokasi, ketinggian air dilaporkan mencapai sekitar 1,7 meter. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, banjir tersebut menyebabkan kerusakan material dan lahan pertanian dalam skala cukup besar.

Pemerintah Kabupaten Subang menunjukkan respons aktif dalam penanganan bencana. Bupati Subang turun langsung ke lapangan dan berkantor di wilayah terdampak guna memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. Bahkan setiap harinya, dapur umum mendistribusikan sekitar 13.000 porsi makanan bagi warga terdampak.

Koordinasi lintas sektor terus diperkuat dengan melibatkan BPBD, TNI, Polri, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta relawan kemanusiaan. 

Selain itu, pemerintah daerah juga mengajukan permohonan normalisasi sungai kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), mengingat kewenangan pengelolaan sungai berada di pemerintah pusat.

BPBD mengimbau warga agar tidak mengungsi di flyover atau badan jalan karena berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan. Perhatian khusus juga diberikan kepada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia. Setiap posko pengungsian telah dilengkapi dengan layanan medis serta logistik dasar.

BPBD Subang menegaskan bahwa tidak ada “kalender bencana”, sehingga masyarakat diharapkan selalu siap siaga. Salah satu upaya edukasi dilakukan melalui program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), di mana sekolah-sekolah dilatih dan disertifikasi agar mampu merespons bencana dengan baik.

Masyarakat pun diimbau untuk tidak membuang sampah ke sungai karena dapat memperparah banjir akibat tersumbatnya aliran air. Terkait bantuan, pemerintah mengarahkan agar donasi disalurkan melalui posko resmi yang dikelola secara transparan agar penyalurannya merata dan tepat sasaran di Kantor Kecamatan Pamanukan.

Secara keseluruhan, BPBD Subang terus berfokus pada upaya pencegahan, respons cepat, serta pemulihan pascabencana dengan dukungan penuh pemerintah daerah dan kolaborasi lintas sektor. 

Masyarakat diharapkan semakin sadar dan siap menghadapi potensi bencana guna meminimalkan risiko dan dampaknya.

KATEGORI

Komentar (Komentar)

MEDIA SOSIAL+