Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Subang kembali menyapa masyarakat melalui program siaran edukatif di studio Radio Benpas Subang pada Sabtu, (21/02).
Dipandu oleh Alfadia Raisabila, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, mengangkat tema yang sangat relevan dengan realitas digital saat ini, yakni Bahasa sebagai Senjata: Ketika Kata-Kata Memicu Perpisahan.
Hadir secara langsung Lusiana Suciati Dewi, M.Pd., sebagai narasumber utama untuk membedah bagaimana lisan dan tulisan dapat menentukan arah hubungan sosial.
Dalam paparannya, Lusiana mengajak pendengar untuk menyadari bahwa bahasa memiliki dimensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar alat bertukar informasi.
Ia menegaskan bahwa hanya dengan satu kalimat saja, sebuah hubungan bisa menjadi retak, dan satu komentar di media sosial terbukti dapat memicu ribuan perdebatan.
Lusiana menjelaskan bahwa meskipun secara linguistik bahasa adalah alat untuk menyampaikan makna, namun dalam kajian pragmatik, makna sebuah ucapan sangat dipengaruhi oleh niat, konteks, serta relasi sosial.
"Bahasa itu bukan sekadar alat komunikasi. Ia bisa jadi jembatan, tapi juga bisa berubah jadi senjata," ungkap Lusiana.
Membahas lebih jauh mengenai dinamika di media sosial, Lusiana menyoroti bagaimana bahasa sering kali disalahgunakan untuk menciptakan polarisasi.
Ia memberikan contoh sederhana melalui kata "beda" yang sejatinya bisa dimaknai sebagai variasi yang indah. Namun, kata tersebut sering kali digunakan dalam konteks untuk memisahkan, seperti melalui pernyataan bahwa sebuah perbedaan membuat dua pihak tidak bisa bersama.
Menurutnya, fenomena ini semakin diperburuk di era digital ketika bahasa digunakan sebagai alat untuk melabeli kelompok secara negatif, menyebarkan ujaran kebencian, hingga menggeneralisasi suatu komunitas.
Lusiana mengingatkan bahwa strategi bahasa yang memicu konflik seperti dikotomi "kita versus mereka" dan framing manipulatif jika diulang-ulang akhirnya akan berhasil membentuk opini publik yang keliru.
Sebagai penutup, Lusiana memberikan solusi dan sisi positif dari komunikasi. Ia menegaskan bahwa bahasa memiliki kemampuan luar biasa untuk menyembuhkan dan menyatukan kembali masyarakat.
"Pilihan kata-kata inklusif seperti kita, bersama, dan menghargai perbedaan, adalah kunci untuk menciptakan ruang aman dalam berkomunikasi," tutup Lusiana.




