Cara setiap orang berbicara dapat berbeda-beda. Perbedaan aksen, dialek, maupun gaya berbahasa tidak semata-mata menunjukkan perbedaan cara berkomunikasi, tetapi juga dapat mencerminkan identitas, latar belakang, dan lingkungan sosial seseorang.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam perbincangan edukatif bertajuk “Why Do We Speak Differently?” yang merupakan bagian dari program FKIP Universitas Subang dan disiarkan langsung dari Studio Radio Benpas Subang, Sabtu (12/9).
Perbincangan dipandu oleh Fauziah dan Nabilah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR), dengan menghadirkan narasumber Lusiana Suciati Dewi, M.Pd.
Dalam pemaparannya, Lusiana menjelaskan bahwa perbedaan cara berbicara bukanlah persoalan benar atau salah. Bahasa, menurutnya, tidak hanya hidup dalam aturan dan kamus, tetapi berkembang seiring dengan kehidupan masyarakat yang menggunakannya.
Cara seseorang berbicara dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari daerah asal, lingkungan, latar belakang sosial dan budaya, usia, tingkat pendidikan, hingga komunitas serta pengalaman hidup.
Lusiana mengajak masyarakat untuk memandang keberagaman aksen dan dialek sebagai bagian dari kekayaan sosial dan budaya.
“Ketika mendengar seseorang berbicara dengan aksen atau dialek yang berbeda, jangan buru-buru mempertanyakan cara bicaranya. Kita justru dapat mempelajari identitas dan budaya mereka melalui bahasa, karena bahasa itu adalah identitas,” ujar Lusiana.
Menurutnya, perbedaan linguistik seharusnya tidak menjadi pemisah dalam interaksi sosial. Sebaliknya, keberagaman bahasa dapat menjadi ruang untuk memahami latar belakang, budaya, dan perjalanan hidup setiap individu.
Melalui perbincangan tersebut, masyarakat diharapkan dapat membangun sikap yang lebih terbuka terhadap keberagaman cara berbahasa serta memandang perbedaan sebagai bagian dari kekayaan identitas yang hidup di tengah masyarakat.




